Registrasi
DPW-DPD PPNSI silahkan registrasi untuk publikasi berita



Tulis Berita?

Panduan Penulisan dan Pengiriman Berita/Artikel di website PPNSI

PostHeaderIcon Serba Serbi

PostHeaderIcon Raja Jamur Mengadakan Pelatihan Budidaya Jamur Tiram Angkatan I

ASOSIASI PELAKU USAHA JAMUR INDONESIA-ASPUJI bekerjasama dengan PPNSI Perhimpunan Petani dan Nelayan Sejahtera Jawa Barat akan mengadakan Pelatihan Budidaya Jamur Tiram.

Pelatihan Akan diadakan pada 7 - 8 Agustus 2010 bertempat di Padepokan Madani Lembang Bandung Barat untuk teori.
Untuk Pelatihan Praktek akan dilaksanakan di Pabrik Jamur Terbesar di Subang PT. Suungkai Indoraya. Untuk Keterangan Lebih Lanjut Hubungi : Prayitno 02270579625
08122040893

 

Peserta akan mendapatkan materi sebagai berikut;
1. Peluang usaha jamur tiram
2. Mengenal jamur tiram, karakteristik dan khasiatnya
3. Praktek pembuatan kultur murni media PDA (Potato Dextroxe Agar)
4. Praktek pembuatan bibit induk F
5. Praktek pembuatan bibit F2, F3 (log produksi)
6. Pengendalian hama dan penyakit
7. Budidaya jamur
8. Analisis usaha dan strategi pemasaran
9. Berbagai resep olahan jamur

Fasilitas yang diterima meliputi:
1. Modul 9 materi
2. CD materi
3. Makan siang, snack.
4. Bibit F2 (log)
5. Sertifikat

Pendaftaran selambat-lambatnya tanggal 6 Agustus 2010 pukul 24.00 WIB

Apa bedanya pelatihan kami dengan yang lain ?
1. Pemateri adalah para akademisi dan praktisi yang kompeten
2. Lokasi kunjungan adalah pabrik jamur yang telah beroperasi sejak 2009 dan menerima order baglog partai besar sehingga kualitas baglognya terjamin.
3. Panitia dan peserta menyantap langsung makanan berbahan dasar jamur begitupun dengan cemilan olahan jamur.
4. Peserta dapat sharing dengan pelaku usaha jamur dan olahan jamur yang telah
sukses. Peserta berkesempatan membangun jejaring dan bekerjasama mengembangkan usaha.
5. Peserta secara langsung menjadi anggota asosiasi petani dan olahan jamur yang akan dilibatkan dengan berbagai kegiatan tentang perkembangan dunia jamur.

investasi pelatihan :
Paket hemat Rp.250.000
Paket medium Rp.750.000
Paket ekslusiv Rp. 1.500.000

 

PostHeaderIcon Kelompok Tani PPNSI Terbaik I se Kota Gorontalo 2010

Setahap demi setahap usaha keras itu membuahkan hasil. Setelah dapat dana modal usaha 100 Juta dari Deptan, kali ini Kelompok Tani Teratap Lestari berhasil meraih Juara I sebagai Poktan terbaik di Kota Gorontalo tahun 2010.. Prestasi itu juga menambah inventaris kelompok  berupa Hand Traktor 1 unit dari Bapak Walikota Hi. Adhan Dambea, S.Sos, MA. Hadiah tersebut diserahkan serangkaian dengan HUT Kota Gorontalo ke 282 19 Maret 2010. terima Kasih kepada Bapak walikota dan Juga teristimewa kepada Teman2 pengurus dan anggota atas segala dukungannya sehingga  kelompok tani kita  mulai bisa bersaing dengan poktan lainnya.

Tentu ini semua tidak terlepas dari bimbingan Bapak/Ibu dari BP4K dan juga dari teman2 PPNSI sebagai tempat konsultasi penguatan Kelompok.

Kepada Teman2 anggota agar jangan cepat puas karena inilah awal kita harus berjuang lebih keras untuk mempertahankan citra yang telah diperoleh. Kita harus lebih aktif lagi dalam kelompok dan terus berupaya membuktikan  komitmen utamanya pengembalian dana modal usaha setelah panen yang pada akhirnya bisa bergulir lagi kepada petani.

 

PostHeaderIcon Saya Petani dan Saya Bangga!

Sebanyak puluhan adik-adik binaan Pembinaan Anak-Anak Salman ITB (PAS ITB) usia SD, pada hari Minggu (28/02) berkunjung ke Rumah Bunga Rizal yang terletak di Jl. Raya Maribaya km 24 Lembang. Rumah Bunga Rizal sendiri merupakan kebun produksi sekaligus kebun wisata yang menyediakan berbagai jenis anggrek, kaktus, tanaman hias daun, dan tanaman hias gantung.

Mengapa namanya Rumah Bunga Rizal? Sederhana saja. Pemiliknya namanya juga Rizal. Rizal Djafaarer.

Melihat profesionalitas Pak Rizal dalam mengelola rumah bunga miliknya, mengiralah bahwa dia adalah seorang sarjana lulusan fakultas yang berhubungan dengan biologi, pertanian, agroteknologi, atau apapun itu. Ternyata asumsi tersebut salah.

“Bukan, Dik. Saya lulusan Teknik Arsitektur IKIP, sekarang UPI. Malah saya sempat tiga setengah tahun kerja di biro arsitektur. Tetapi saya lelah. Pulang malam terus,” kenangnya ketika ditemui bersama kedua temannya di tempat tinggalnya pada hari Minggu, 28 Februari 2010.

Beliau mengatakan, ketika berencana untuk keluar dari tempat kerjanya, teringatlah akan hobi masa kecil. Berkebun. Itulah cikal bakal pria yang pertama kali mendatangkan kaktus ke Indonesia ini, memilih bisnis tanaman sebagai pijakan pertama setelah melepas dunia perkantoran.

“Dunia perkantoran membuat saya jenuh. Saya tahu apa yang saya tahu. Saya ingin jadi petani,” ujarnya mantap.

Menurutnya, petani bukanlah sebuah profesi yang sarat akan kehinaan. Rasulullah saja dulu sempat jadi petani, peternak, dan pedagang sampai akhirnya ia menjadi Khalifah.

“Tidak ada ceritanya tuh Rasulullah menyuruh kita jadi pegawai kantoran,” candanya.

Beliau lanjut mengatakan, sebaik-baiknya bisnis ialah bisnis yang disukai sekaligus bisnis yang dapat mendatangkan keuntungan. Orang kaya itu mikirnya bagaimana agar mereka terus menjual dan memproduksi. Kalau orang miskin itu mikirnya lebih ke arah hal-hal yang mendorong mereka untuk menjadi konsumtif.

“Orang kaya yang saya maksudkan bukan orang yang banyak duitnya. Kaya ilmu, kaya pengalaman, kaya amal ibadah.. Itulah kaya yang seharusnya kita raih.”

Dalam bisnis tanaman, pria yang pernah menjuarai kontes tanaman anggrek se-ASEAN di Jawa Timur tahun 2003 ini mengatakan keuntungannya sungguh dapat dibilang “Subhanallah” sekali.

“Ketika saya sedang tidak bekerja pun, Alhamdulillah uang tetap mengalir.”

Tampaknya penuturan Pak Rizal ini menumbuhkan minat kedua pria teman ngobrolnya untuk turut serta berbisnis seperti ini. Salah satu dari mereka bertanya, “Apa saja nih kendala dalam berbisnis tanaman ini?”

“Diri sendiri!” jawabnya tanpa tedeng aling-aling.

“Kebanyakan kendala itu datangnya dari diri sendiri. Seperti takut gagal, gengsi, dan lain-lain lah. Yah, itu dia. Penyakit hati.”

Bunga, Wanita, dan Perannya dalam Islam

Pak Rizal Djafaarer ini tampaknya orang yang romantis. Kesan ini terlihat ketika dia mengatakan bahwa beliau sungguh menyukai bunga serta keindahan tersendiri yang terdapat di dalamnya. Apalagi ketika ia menyatakan bahwa wanita dan bunga memiliki persamaan.

“Sebagian besar orang menyukai bunga karena aroma, warna, keunikan, nilai jual, dan keindahan yang dimilikinya. Oleh karena itu, bunga juga identik dengan wanita, itulah sebabnya ia perlu dicintai.”

Ketika ditanyakan lebih lanjut tentang peranan wanita dalam kehidupan rumah tangga, beliau mengatakan betapa dzalimnya suami yang membiarkan istrinya bekerja di luar rumah.

“Dalam Islam kan sudah ada pembagian peran. Suamilah yang mencari nafkah. Istrilah yang pertama kali mendidik anak-anak mereka dalam lingkungan rumah. Istri juga sebenarnya bisa ikut berusaha, tetapi usahanya cukup yang nggak usah ke mana-mana. Di rumah juga bisa kan? Apalagi sekarang ada internet.”

“Ada beberapa kasus yang membuat saya miris. Teman-teman saya yang kerjanya kantoran dan istrinya juga bekerja, mereka malah punya WIL (wanita idaman lain) dan PIL (pria idaman lain) masing-masing. Anaknya malah kebanyakan gaul sama pembantu. Pembantu itu kan kebanyakan pola pikirnya kurang terarah, dan ini akan menular kepada si anak.”

Pendapat pribadi Pak Rizal ini seakan membuat kita berpikir bahwa wanita itu kesannya wanita rumahan yang kuper (baca: kurang pergaulan). Namun hal itu terpatahkan ketika Pak Rizal melanjutkan argumentasinya.

“Bukannya kita, para pria bisa seenaknya saja memilih wanita untuk dijadikan istri. Istri itu harus pintar. Harus punya pengetahuan yang luas. Istri itu merupakan teman diskusi paling setia yang senantiasa membantu suaminya memecahkan segala permasalahan yang mengganggu,” ujarnya.

Bersungguh-sungguh, tapi jangan lupa bersyukur!

Filosofi hidupnya ialah bersungguh-sungguh ketika ditanya.

“Apapun profesimu, jalanilah dengan kesungguh-sungguhan. Dan jangan lupa bersyukur! Karena banyak orang kaya sukses, mereka bersungguh-sungguh tetapi mereka tidak bahagia karena tidak bersyukur dengan apa yang mereka sudah punya,” tutur pria beranak dua ini mantap.

“Untung kita beragama Islam. Ada Allah yang senantiasa menjamin keberkahan rezeki setiap manusianya jika kita tetap berusaha secara jujur dan berada di koridor yang benar. Insya Allah.”

Tristia Riskawati

http://wisata.kompasiana.com/group/jalan-jalan/2010/03/27/saya-petani-dan-saya-bangga/

 

PostHeaderIcon Info Lomba : AG-FBC Community Entrepreneurs Challenge

FROM ONE TO MANY
Arthur Guinness Fund-British Council
Community Entrepreneurs Challenge
Bagaimana mendapatkan lebih dengan memberi lebih banyak?


Membangun Komunitas Melalui Kewirausahaan Sosial Berbasis Komunitas

“We are living in a phenomenal age. If we can spend the early decades of the 21st century finding approaches that meet the needs of the poor in ways that generate profits and recognition for business, we will have found a sustainable way to reduce poverty in the world.”

Bill Gates: Worlds Economic Forum 2008

Dunia ini penuh dengan apa yang John Elkington dan Pamela Hartigan sebut sebagai unreasonable people, yakni orang-orang yang tidak mau mendengar skeptisme sekitar dan percaya bahwa pasar yang seringkali bersifat eksploitatif dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan sosial dan lingkungan demi kepentingan bersama. Kami memanggil unreasonable people ini dengan sebutan Wirausahawan Sosial, yaitu wirausahawan yang memiliki tujuan sosial, sebagai nilai mereka yang paling utama. 

Kewirausahaan sosial berkembang di Inggris sejak tahun 1970an ketika komunitas mengambil inisiatif untuk menyelesaikan permasalahan sosial, ekonomi dan lingkungan di sekitar mereka dengan pendekatan kewirausahaan. Kegiatan sosial dan lembaga swadaya masyarakat mulai bergerak dari tradisi mengandalkan kontribusi amal (charity) ke mengupayakan pendekatan kewirausahaan untuk menjamin kesinambungan layanan sosial mereka. Mereka menjalankan usaha yang inovatif untuk meraih pendapatan. Pendapatan tersebut kemudian digunakan untuk meningkatkan atau mempertahankan kemampuan lembaga tersebut untuk melakukan aktivitas sosialnya.

Saat ini, kewirausahaan sosial telah berkembang secara global; mulai dari Oxford Charity Shop di Inggris, Grameen Bank yang pertama kali berkembang di Bangladesh hingga Telapak dan Saung Angklung Udjo di Indonesia. Secara lebih spesifik, Kewirausahaan Sosial yang berbasis pada komunitas dikenal dengan sebutan Community Entrepreneurship, yakni suatu usaha yang melaksanakan kegiatan (produksi atau jasa) yang memiliki nilai ekonomi dan berbasis dalam suatu komunitas, bersifat demokratis, terbuka dan dapat dipertanggung-jawabkan. Seorang Wirausahawan Sosial berbasis Komunitas adalah anggota suatu komunitas yang berkomitmen menggunakan usaha sosial untuk memecahkan masalah komunitas dan / memperkuat ekonomi komunitas. Mereka terlihat sebagai pemimpin di komunitas mereka dan mampu mendirikan atau mengelola proyek usaha komunitas.

Mengenai Arthur Guinness Fund - British Council: Community Entrepreneurs Challenge

AGF-BC CEC adalah kompetisi yang diadakan oleh British Council bekerja sama dengan Arthur Guinness Fund yang mengajak para wirausahawan sosial berbasis komunitas di Indonesia, baik yang baru ingin memulai usahanya maupun yang telah berjalan, untuk bersaing memperebutkan kesempatan berpartisipasi dalam serangkaian kegiatan pengembangan kapasitas, kesempatan berjejaring dengan wirausaha-wirausaha sosial berbasis ko munitas dari seluruh Indonesia hingga ke Inggris; serta kesempatan mendapatkan dana investasi hibah hingga Rp. 400 juta untuk wirausaha pemula dan Rp. 200 juta untuk kewirausahaan yang butuh pengembangan lebih lanjut (madya). Baca lebih lanjut

Profil Peserta

Seorang Wirausahawan Sosial berbasis Komunitas adalah seseorang yang kreatif dan inovatif dalam membentuk suatu rencana bisnis yang bertujuan menyelesaikan permasalahan yang ada di komunitasnya dan pantang menyerah dalam mencapai objektif sosialnya. Ada dua kategori Kewirausahaan Sosial berbasis Komunitas yang akan dipertandingkan dalam AGF-BC CEC yakni:

a. Kewirausahaan Sosial berbasis Komunitas tingkat Pemula

* Suatu usaha yang belum didirikan secara legal oleh individu yang bercita-cita mendirikan satu usaha sosial berbasis komunitas, atau
* Suatu usaha yang telah didirikan secara legal tetapi belum memiliki pengalaman di pasar dengan satu produk atau jasa, atau
* Suatu usaha yang telah memiliki pengalaman di pasar kurang dari 3 tahun; dibuktikan oleh laporan keuangan atau dokumen legal lain.

b. Kewirausahaan Sosial berbasis Komunitas tingkat Madya

* Suatu usaha yang telah didirikan secara legal atau sedang dalam proses legalisasi, secara aktif telah menyediakan produksi atau jasa di pasar minimal 3 tahun dibuktikan oleh laporan keuangan atau dokumen legal lainnya, tetapi memiliki penghasilan kurang dari 1 milyar rupiah per tahun; ata

Proses Aplikasi

Peserta kompetisi harus mengirimkan formulir aplikasi dan deskripsi singkat yang mendemonstrasikan permasalahan sosial atau lingkungan yang menjadi fokus usaha serta uraian yang menjelaskan bagaimana usaha sosial berbasis komunitas yang ingin dibentuk ataupun yang telah berjalan dapat mengatasi permasalahan tersebut.

Silahkan klik untuk membaca informasi terinci mengenai peraturan, definisi, dan batasan kompetisi.

Lengkapi formulir aplikasi lalu kirim melalui email atau via POS ke: British Council, Gedung Bursa Efek Indonesia, Tower II, Lt.16. Jl. Jend. Sudirman 52-53 - Jakarta. (jangan lupa tulis AGF - BC - CEC di sudut kanan amplop), selambat-lambatnya tanggal 31 Mei 2010 (cap pos).

Berita mutakhir mengenai AGF-BC CEC juga dapat diikuti melalui British Council Indonesia Facebook fanpage.

Contact Person: Mahardhika Sadjad

Note: Demi mengusung semangat Go Green, akan lebih baik jika formulir yang sudah dilengkapi dikirim kembali melalui Email

Kami TIDAK menerima aplikasi lain kecuali dengan format yang sudah disediakan, mohon JANGAN kirimkan proposal usaha dengan format Anda sendiri.

Kompetisi ini juga didukung oleh Koran Tempo dan TEMPO Edisi Bahasa Inggris

Sumber : http://www.britishcouncil.org/id/indonesia-entrepreneurship-cec.htm

 

PostHeaderIcon Utang Negara dalam Syariah

beikRepublika Online 30 Juni 2009. Beratnya beban utang yang harus dipikul Indonesia tampaknya akan tetap menjadi salah satu PR besar bagi ketiga pasangan capres-cawapres, baik SBY-Boediono, JK-Wiranto, maupun Mega-Prabowo, apabila mereka terpilih nantinya dalam pilpres mendatang. Dalam lima tahun terakhir, jumlah utang mengalami peningkatan secara signifikan, dari Rp 1.275 triliun pada 2004 menjadi Rp 1.704 triliun pada 2009. Dengan peningkatan sebesar itu, setiap tahunnya terdapat penambahan utang baru sebesar Rp 97 triliun. Akibatnya, setiap penduduk Indonesia harus menanggung beban utang Rp 7,4 juta.

Fakta ini kemudian dimanfaatkan oleh sejumlah pihak untuk menyerang pasangan incumbent . Namun demikian, respons pemerintah via Menkeu Sri Mulyani mencoba menepis kekhawatiran akan bahaya utang bagi kedaulatan negara. Ia menegaskan bahwa meski secara nominal jumlah utang meningkat, berdasarkan rasio utang terhadap PDB, angkanya mengalami penurunan dari 54 persen pada tahun 2004 menjadi 32 persen pada 2009. Sebuah pernyataan yang kemudian mengundang reaksi karena beban APBN untuk membayar utang plus bunganya sangat besar. Tahun ini saja, APBN kita telah menganggarkan Rp 110 triliun untuk membayar bunga utang. Belum lagi ditambah dengan faktor kedaulatan dan kemandirian bangsa di mata dunia.

Baca selengkapnya...

 
Artikel Lainnya...
Bagikan artikel ini.. Bookmark and Share


Pencarian
Pendapat Anda
Tingkatkan anggaran pertanian sebelumnya kurang dari 1% APBN menjadi paling tidak 5%?
 

Locations of visitors to this page