Kupang, Kompas - Dampak pencemaran Laut Timor akibat tumpahan minyak mentah dari sumur Montara milik Australia yang meledak enam bulan lalu mulai dirasakan para nelayan tradisional. Mereka mengeluh, hasil tangkapan merosot tajam, bahkan sampai ada nelayan yang menjual perahu.
”Dulu, melaut selama seminggu, kami bisa mendapat sampai 500 kilogram teripang. Setelah pencemaran minyak di Laut Timor, dapat 100 kg teripang saja amat sulit,” kata Mustafa, Senin (15/2).
Dia bahkan sudah menjual satu perahu motor seharga Rp 20 juta karena ikan dan teripang di Laut Timor menghilang. Keluhan senada dilontarkan Kian dan H Bahri di Oesapa, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Untuk meneliti dampak pencemaran, tim nasional dari Jakarta yang beranggotakan 20 orang sejak Senin siang tiba di Kupang. Tim dipimpin Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Kementerian Perhubungan Sato M Bisri. Mereka akan berada di NTT hingga Jumat (19/2).
”Tugas tim meneliti secara mendalam seberapa jauh dampak pencemaran terhadap warga, usaha rumput laut, kehidupan mangrove, atau biota lain. Australia menyatakan siap bertanggung jawab bila pencemaran minyak merugikan warga dan lingkungan NTT,” kata Sato di Tenau, Kupang.