PPNSI Sesalkan Kegagalan Pembibitan Sapi
Semarang – program pembibitan sapi perah yang dialokasikan oleh pemerintah Provinsi kepada dinas Peternakan kab Boyolali harus dievaluasi secara total. Keberadaan sapi yang semula 120 ekor sekarang menjadi 52 ekor membuktikan bahwa program ini gagal, sehingga pemda boyolali harus bertanggungjawab untuk mengembalikan sapi yang hilang dikelompok tani. ”Memang harus diakui bahwa Jawa tengah belum memiliki pusat pembibitan yang Unggul, masih kalah dengan jawa barat”, Ungkap Riyono Ketua PPNSI Jawa tengah.
Menurut Riyono kegagalan kegagalan breeding center ini disebabakan oleh beberapa hal, pertama kualitas bibit sapi yang tidak standar, jika sapi harga 8 juta seharusnya sudah bagus dan siap menghasilkan susu minimal sehari 8 liter. Kedua, hilangnya sapi dari kelompok ternak terjadi karena lemahnya pengawasan oleh dinas atau jeleknya kualitas kelompok ternak pengelola bantuan. Ketiga, manajemen pengelolaan yang kurang mendukung, manajemen ini meliputi pakan ternak, anak kandang, kesehatan hewan, pembinaan kelompok dan sistem pelaporan yang seharusnya dilakukan secara ketat, karena tujuan pembibitan adalah menghasilkan sapi bibit berkualitas yang bisa meningkatkan volume sapi di kab Boyolali atau Jawa tengah.
”Berdasarkan pengalaman kami selama ini mengelola hampir 20 kelompok binaan ternak sapi sejak 2007, khususnya pembibitan memang membutuhkan perhatian yang ekstra dibandingkan dengan penggemukan, papar Riyono. Bisa jadi tidak hanya di Boyolali saja yang mengalami kegagalan, namun menurut pantuan PPNSI sejumlah proyek bantuan sapi baik penggemukan ataupun pembibitan yang diberikan oleh pemerintah kepada petani seringnya sapinya dimakan oleh petani, tambah Riyono yang saat ini menjadi Sekjen DPP PPNSI.
Oleh karena itu PPNSI siap membantu pemprov Jateng dan pemda Boyolali dalam pengelolaan baik penggemukan sapi ataupun pembibitan, kami tidak hanya menyalahkan, tapi kami siap membantu untuk kemajuan peternakan Jawa Tengah secara serius.
| < Prev | Next > |
|---|



