Registrasi
DPW-DPD PPNSI silahkan registrasi untuk publikasi berita



Tulis Berita?

Panduan Penulisan dan Pengiriman Berita/Artikel di website PPNSI

PostHeaderIcon Jabar Produsen Padi Terbesar

SUMEDANG, (Pikiran Rakyat) - Provinsi Jabar kembali menempati urutan pertama produsen padi nasional, setelah sampai pertengahan Desember tahun 2009 ini mampu memproduksi 11,1 juta ton gabah kering giling (GKG). Perolehan tersebut sudah melebihi 10 persen target semula 10,5 juta ton GKG. Demikian dikatakan Gubernur Jabar H. Ahmad Heryawan, di Kec. Jatinangor, Kab. Sumedang, Selasa (15/12).

Disebutkan, perolehan hasil ini juga membuat produksi padi dan beras Jabar juga naik dibandingkan dengan 2008 lalu, di mana saat itu masih menempati urutan kedua nasional setelah Jatim. Hasil pada tahun 2009 diperoleh secara signifikan, di mana sampai beberapa pekan lalu baru mencapai selisih kelebihan 5 persen dari target.

"Mudah-mudahan, hasil yang dicapai ini membuat pasokan pangan, terutama padi dan beras di Jabar dapat memenuhi seluruh kebutuhan pangan daerahnya. Bagi petani, diharapkan mampu meningkatkan motivasi usaha mereka, apalagi pasokan bahan pangan yang memadai sangat penting untuk ketahanan pangan daerah Jabar, sehingga jangan ada lagi masyarakat rawan pangan," katanya, saat Silaturahmi Pemberdayaan Ekonomi Kelompok Masyarakat Daerah Rawan Pangan.

Silaturahmi yang dihadiri Kepala Badan Ketahanan Daerah Pangan Jabar Lucki Rulyaman Djunaedi, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Helmy Anwar, dan Kepala Biro Produksi Pemprov Jabar Toto M. Toha, tersebut diikuti sekitar 1.300 orang masyarakat dari berbagai kabupaten di Jabar.

Ahmad Heryawan, juga menyerahkan bantuan sosial bagi masyarakat rawan pangan di Jabar, berupa Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (LDPM) total Rp 7,35 miliar, Usaha Ekonomi Produktif (UEP) total Rp 275 juta, Alat Pengolah Organik (APO) total Rp 450 juta, bantuan keuangan lumbung pangan, gerakan minum susu, kerja sama pengadaan beras cadangan pangan pemerintah, dll.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Daerah Jabar Lucki Rulyaman Djunaedi mengatakan, selain ketahanan pangan juga tengah digenjot diversifikasi pengusahaan jenis-jenis tanaman pangan lain, agar masyarakat tak hanya berfokus kepada beras.

Jika masyarakat sudah terbiasa dengan jenis-jenis bahan pangan lainnya, mereka juga banyak pilihan makanan dan tak ada gejolak, terutama jika dalam suatu waktu harga beras memberatkan. (A-81)***

 
Bagikan artikel ini.. Bookmark and Share


Pencarian
Pendapat Anda
Tingkatkan anggaran pertanian sebelumnya kurang dari 1% APBN menjadi paling tidak 5%?
 

Locations of visitors to this page